Senin, 07 Mei 2012

Bukan salah bintang atau malam


 Asap masih mengepul dari celah celah dibibirnya,berwajahkan duka yang dalam dan tatapan mata yang kosong ia mengobati dirinya dengan sebotol bir dan menikmati asap tembakaunya.
Hidup memang dihadiahkan tuhan kepada mereka yang sempurna, tak ada hal yang lebih menyedihkan selain melihat wanita yang kita cintai pergi bersama laki laki lain.
Ia masih malas tapi bukan pemalas, ia pucat pasi dengan mata merah setelah 2 hari matanya tak bisa terpejam,memang mata adalah teman  yang paling dekat dengan hati dan perasaan,hati bisa merasakan cinta setelah mata bercerita kepadanya, hati akan menangis setelah mata mengatakan apa yang sebenarnya ia lihat, mata menjadi sahabat yang tahu sebelum hati menangis.
Ia merasa ingin mencugnkil matnya dan meminjamkan bola mata itu kepada orang lain agar orang lain bisa melihat kepedihan yang ia lihat selama ini, namun niat itu ia urungkan karena ternyata hati menyuruhnya untuk tetap bersama mata walau hati akan terus menangis.
Sebotol bir sudah ia habiskan dan asap yang keluar dari celah bibirnya sudah berhenti, lalu tiba tiba ia mulai beranjak dari sofa lalu mengambil foto kenangan ia dengan dinda,jauh jauh hari sebelum ada undangan pernikahan dinda datang yang ia taruh di meja depan.
Dengan mata berkaca kaca ia mengusap foto itu, mencium memeluk dan akhirnya ia tumbang di lantai memeluk kenangn mereka.
Setelah 2 hari dipayungi duka yang sangat dalam akhirnya ia bisa damai merasakan indahnya hidup walau tuhan memberikannya hanya lewat mimpi,mimpi bersama dinda yang ia rindukan,dalam tidur yang lelah ia memimpikan dinda bersamanya menikmati semangkuk sup ayam kesukaan dinda,merasakan dinda ketika ia membersihkan peluh yang ada di dahinya setelah sambal yang cukup pedas itu menghantam mulutnya,satu hal yang akan ia sadari dan akan menambah sakit yang ia rasakan adalah ternyata ia hanya bermimpi.
Pagi bersama silaunya memaksa matanya untuk membuka dan melihat kehidupan,melihat kepalsuan,melihat nestapa dan tiba tiba embun pagi meluncur dari tiap poro pori tubuhnya hingga ia tak berdaya,dengan  bau alkohol yang masih lekat dan mata yang masih merah ia tidak mungkin bekerja,ia sadar hari ini ia tidak akan ungkin bekerja walaun hanya setengah hari sekalipun,
namun cinta sering kali membuat manusia lupa diri membuat manusia lebih bodoh dari seekor keledai sekalipun, cinta membuat ia sama sekali tak menampakkan seorang wajah seorang pendidik,ia seperti gelandangan di bawah jembatan atau pun semacam pasien rumah sakit jiwa yang lari lari ditengah jalan berebut minuman.

Ia ingin meneguk kenangan besam dinda, ia ingin menghabiskan semangkuk sup bersama dinda,menonton film di bioskop bersama dinda dan menggenggam jemarinya,berlama lama di balkon rumah hanya utnuk melihat bintang dan malam  bersatu dalam dunia yang indah,
cinta yang teramat dalam yang ia rasakan membuat ia tenggelam dalam duka yang asin, yah . .  duka itu sebenarnya memang asin bukan pahit, karena air mata itu  tersasa asin ketika ia rasakan lewat bibir,bukan rasa pahit, pahit hanya milik kejujuran, setiap kali  ada kejujuran maka ada kepahitan.seperti ketika dinda mengatakan kepadanya bahwa ia hanya ingin memilih suami yang banar benar mapan dalam segala hal, dan ia sadar masih jauh dari itu,kejujuran yang begitu pahit,tidak salah memang jika nenek moyang kita selalu mengatakan katakan sejujurnya walaupun itu pahit,ternyata memang sangat pahit.

Ia merasa tuhan begitu dekat, kadang begitu jauh, dan saat ini yang ia rasakan tuhan benar benar meninggalkannya dalam kesepian yang hening dan yang ia tahu tentang tuhan hari ini adalah ternyata tuhan lebih mudah merasa cepat bosan dari seorang anak TK sekalipun, ia sendirian dalam kepedihan yang menyakitkan.
Bukan salah tuhan menciptakan ia dengan  segala perasaanya, bukan salah bintang malam menciptakan malam yang begitu indah tempat mereka menghabiskan malam dibalkon rumah,juga bukan salah perpustakaan yang mempertemukan mereka yang mengesankan.

Ketika matahari sudah mencapai pucuk dedaunan ia bangkit ia nyalakan api dan mulai mengeulkan asap asapnya, walau pagi ini tanpa bir sekalipun ia masih beruntung karena masih punya segelintir rokok di sakunya yang bisa melupakan dukanya yang teramat dalam.
Pagi ini biru berebut dengan awan untuk menghiasa hari,langit dengan birunya yang palsu selalu adil dalam pertarungan ini,ia akan selalu membagi daerah awan dan biru. Tapi terkadang biru hilang sekejap dan awan jahat berwarna pekat selalu datang dan menangis, seperti pagi ini belum genap 10 dalam hitungan jam matahari sudah urung menampakkan ronanya, biru langit hilang entah kemana dan kupu kupu bersembunyi dalam tariannya yang indah.
Pagi ini hujan cukup deras, hujan membuat ia semakin tenggelam dalam dunia yang pahit, ia masih ingat ketika ia bersama dinda sepulang bekerja terjebak hujan dan harus menepi di sebuah gubuk di pinggiran sawah,ketika itu hujan cukup deras seperti pagi ini,dan dinda memeluknya erat erat, ia juga ingat ketika ia harus rela hujan hujanan hanya untuk membeli teh hangat untuk dinda yang kedinginan setelah hujan memberinya air yang berlimpah disekujur tubuhnya.


Sepertinya ia sudah tidak tahan lagi.
Ia inginmerasakan hujan ia inginmerasakn kenangan ia inginmerasakan murka tuhan, ia kemasukan setan perasaan.
Ia membuka pintu lalu berdiri ditengah hujan sambil menatap langit, ia menatap langit penuh haru dan matanya berkaca kaca,ada cahaya yang terpancar dari sinar matanya yang basah,dan itu adalah doa terakhirnya sebelum tuhan mengambilnya lewat cara yang tragis lewat senapan yang tempo hari ia beli di pasar gelap.
                                                                                   
                                                                                    Boja 1 Oktober 2011 08.30 WIB
                                                                   “dalam kesepian yang pahit”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management