Asap masih
mengepul dari celah celah dibibirnya,berwajahkan duka yang dalam dan tatapan
mata yang kosong ia mengobati dirinya dengan sebotol bir dan menikmati asap
tembakaunya.
Hidup memang
dihadiahkan tuhan kepada mereka yang sempurna, tak ada hal yang lebih menyedihkan
selain melihat wanita yang kita cintai pergi bersama laki laki lain.
Ia masih
malas tapi bukan pemalas, ia pucat pasi dengan mata merah setelah 2 hari
matanya tak bisa terpejam,memang mata adalah teman yang paling dekat dengan hati dan perasaan,hati
bisa merasakan cinta setelah mata bercerita kepadanya, hati akan menangis
setelah mata mengatakan apa yang sebenarnya ia lihat, mata menjadi sahabat yang
tahu sebelum hati menangis.
Ia merasa
ingin mencugnkil matnya dan meminjamkan bola mata itu kepada orang lain agar
orang lain bisa melihat kepedihan yang ia lihat selama ini, namun niat itu ia
urungkan karena ternyata hati menyuruhnya untuk tetap bersama mata walau hati
akan terus menangis.
Sebotol bir
sudah ia habiskan dan asap yang keluar dari celah bibirnya sudah berhenti, lalu
tiba tiba ia mulai beranjak dari sofa lalu mengambil foto kenangan ia dengan
dinda,jauh jauh hari sebelum ada undangan pernikahan dinda datang yang ia taruh
di meja depan.
Dengan mata
berkaca kaca ia mengusap foto itu, mencium memeluk dan akhirnya ia tumbang di
lantai memeluk kenangn mereka.
Setelah 2
hari dipayungi duka yang sangat dalam akhirnya ia bisa damai merasakan indahnya
hidup walau tuhan memberikannya hanya lewat mimpi,mimpi bersama dinda yang ia
rindukan,dalam tidur yang lelah ia memimpikan dinda bersamanya menikmati
semangkuk sup ayam kesukaan dinda,merasakan dinda ketika ia membersihkan peluh
yang ada di dahinya setelah sambal yang cukup pedas itu menghantam mulutnya,satu
hal yang akan ia sadari dan akan menambah sakit yang ia rasakan adalah ternyata
ia hanya bermimpi.
Pagi
bersama silaunya memaksa matanya untuk membuka dan melihat kehidupan,melihat
kepalsuan,melihat nestapa dan tiba tiba embun pagi meluncur dari tiap poro pori
tubuhnya hingga ia tak berdaya,dengan
bau alkohol yang masih lekat dan mata yang masih merah ia tidak mungkin
bekerja,ia sadar hari ini ia tidak akan ungkin bekerja walaun hanya setengah
hari sekalipun,
namun cinta
sering kali membuat manusia lupa diri membuat manusia lebih bodoh dari seekor
keledai sekalipun, cinta membuat ia sama sekali tak menampakkan seorang wajah
seorang pendidik,ia seperti gelandangan di bawah jembatan atau pun semacam pasien
rumah sakit jiwa yang lari lari ditengah jalan berebut minuman.
Ia ingin
meneguk kenangan besam dinda, ia ingin menghabiskan semangkuk sup bersama
dinda,menonton film di bioskop bersama dinda dan menggenggam jemarinya,berlama
lama di balkon rumah hanya utnuk melihat bintang dan malam bersatu dalam dunia yang indah,
cinta yang
teramat dalam yang ia rasakan membuat ia tenggelam dalam duka yang asin, yah .
. duka itu sebenarnya memang asin bukan
pahit, karena air mata itu tersasa asin
ketika ia rasakan lewat bibir,bukan rasa pahit, pahit hanya milik kejujuran,
setiap kali ada kejujuran maka ada
kepahitan.seperti ketika dinda mengatakan kepadanya bahwa ia hanya ingin
memilih suami yang banar benar mapan dalam segala hal, dan ia sadar masih jauh
dari itu,kejujuran yang begitu pahit,tidak salah memang jika nenek moyang kita
selalu mengatakan katakan sejujurnya walaupun itu pahit,ternyata memang sangat
pahit.
Ia merasa
tuhan begitu dekat, kadang begitu jauh, dan saat ini yang ia rasakan tuhan benar
benar meninggalkannya dalam kesepian yang hening dan yang ia tahu tentang tuhan
hari ini adalah ternyata tuhan lebih mudah merasa cepat bosan dari seorang anak
TK sekalipun, ia sendirian dalam kepedihan yang menyakitkan.
Bukan salah
tuhan menciptakan ia dengan segala
perasaanya, bukan salah bintang malam menciptakan malam yang begitu indah
tempat mereka menghabiskan malam dibalkon rumah,juga bukan salah perpustakaan
yang mempertemukan mereka yang mengesankan.
Ketika matahari
sudah mencapai pucuk dedaunan ia bangkit ia nyalakan api dan mulai mengeulkan
asap asapnya, walau pagi ini tanpa bir sekalipun ia masih beruntung karena
masih punya segelintir rokok di sakunya yang bisa melupakan dukanya yang
teramat dalam.
Pagi ini
biru berebut dengan awan untuk menghiasa hari,langit dengan birunya yang palsu
selalu adil dalam pertarungan ini,ia akan selalu membagi daerah awan dan biru.
Tapi terkadang biru hilang sekejap dan awan jahat berwarna pekat selalu datang
dan menangis, seperti pagi ini belum genap 10 dalam hitungan jam matahari sudah
urung menampakkan ronanya, biru langit hilang entah kemana dan kupu kupu
bersembunyi dalam tariannya yang indah.
Pagi ini
hujan cukup deras, hujan membuat ia semakin tenggelam dalam dunia yang pahit,
ia masih ingat ketika ia bersama dinda sepulang bekerja terjebak hujan dan
harus menepi di sebuah gubuk di pinggiran sawah,ketika itu hujan cukup deras
seperti pagi ini,dan dinda memeluknya erat erat, ia juga ingat ketika ia harus
rela hujan hujanan hanya untuk membeli teh hangat untuk dinda yang kedinginan
setelah hujan memberinya air yang berlimpah disekujur tubuhnya.
Sepertinya
ia sudah tidak tahan lagi.
Ia
inginmerasakan hujan ia inginmerasakn kenangan ia inginmerasakan murka tuhan,
ia kemasukan setan perasaan.
Ia membuka
pintu lalu berdiri ditengah hujan sambil menatap langit, ia menatap langit penuh
haru dan matanya berkaca kaca,ada cahaya yang terpancar dari sinar matanya yang
basah,dan itu adalah doa terakhirnya sebelum tuhan mengambilnya lewat cara yang
tragis lewat senapan yang tempo hari ia beli di pasar gelap.
Boja 1 Oktober 2011 08.30 WIB
“dalam
kesepian yang pahit”